Hal
kecil berikut ini bukanlah melamun. Anda duduk sendiri dan membayangkan
murid-murid anda yang sedang menunggu kehadiran anda, mereka sedang
menunggu sosok yang akan memberikan solusi atas masalah-masalah yang
sedang mereka hadapi dan mencoba untuk menyelesaikannya sendiri. Mereka
sedang menantikan pertemuan yang paling bernilai hari ini, bertemu
dengan seorang guru yang akan menebar aura terbaiknya.
Jika hal tersebut benar-benar nyata, apa yang akan anda persiapkan untuk pertemmuan itu?
Senyum
renyah dan untuh mereka suguhkan untuk anda tepat pada langkah pertama
anda masuk ke dalam ruangan kelas hari itu. mereka merasa nyaman saat
anda hadir. mereka begitu siap. Mereka optimis bahwa mereka akan
mendapatkan sesuatu yang begitu berharga hari ini. Mereka begitu senang,
ternyata andalah sumber kebahagiaan mereka.
Tentu
keadaan ini bukan hanya modal besar bagi anda untuk membawa pikiran,
perasaan dan segala angan mereka untuk masuk pada keadalaman ilmu yang
terkandung di dalam mata pelajaran yang anda bawakan.
Bagaimana
dengan kenyataan yang terjadi di kelas kita? Kenyataan yang terjadi di
kelas kita barangkali berbeda. Sebagian besar siswa berharap pada akan
ketidakhadiran gurunya. Mereka tampak tidak begitu siap dengan bahasan
materi hari ini. Selain itu, mereka juga merasa bahwa pembahasan
pertemuan sebelumnya belum setengahnya yang mereka kuasai. Belum lagi PR
yang belum semuanya terjawab membuat hari itu terasa begitu runyam.
Keadaan
yang mana yang lebih seering terjadi di kelas kita; yang pertama
ataukah yag kedua? Bagi anda yang mengajar di Taman Kanak-kanak,
barangkali deskripsi yang pertama terasa begitu nyata. Begitu pula di
Sekolah Dasar terutama untuk kelas kecil yang paling awal. Anak dengan
segala kepolosannya terasa begitu indah. Mereka begitu riang dan
antusias. Sesekali kita merasa dongkol namun kemudian hal itu hilang
terkubur oleh kesenangan yang lain.
Namun
sesekali (saya temukan) para guru di sekolah menengah atas menghadapi
masalah sebaliknya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah keceriaan itu
telah hilang dari para siswa atau mungkinkah perubahan itu terjadi pada
anda?
Jawaban
dari pertanyaan itu mungkin beragam. Masing-masing dari anda pasti
memiliki jawaban yang beragam. Namun jawaban apapun yang anda berikan,
setidaknya pernyataan berikut harus anda setujui. Keriangan dan
keceriaan kelas harus tetap terjaga. Siapa kunci dari kondisi ini?
Jawabannya tentu bukan orang lain, andalah para guru.
Bayangkan
anda sedang memandang berlian-berlian yang menunggu sentuhan cermat
tangan anda untuk membersihkan, memoles, mengukir dan menempatkan di
tempat yang tinggi dan terhormat. Tidak ada tangan lain selain tangan
anda. Karena itu anda akan merasa wajib belajar bagaimana membersihkan,
mengukir dan memoles serta menempatkannya dengan sempurna. Jika
ternyata anda tahu bahwa anda tidak mampu, anda pasti hawatir bahwa
kemilauan tidak akan nampak sehingga anda mencarikan ahli untuk
melakukannya. Ketika semua itu berhasil, maka siapapun yang melihat
berlian itu pasti akan sanngat terpesona. Berlian itulah anak didik
kita.
Tentu
kita tidak akan membiarkan ada noda menempel sekecil apapun. Kita tidak
akan membiarkannya terabaikan. Tanpa disadari pikiran kita terus
berputar mencari cara yang terbaik agar 'berlian' kita nampak sempurna.
Luangkan
waktu anda untuk merenungkan anak didik anda, masa depan mereka,
kesulitan-kesulita yang mereka hadapi, kondisi ekonomi, keluarga, pola
pikir, keinginan, tantangan, dan sekian banyak hal yang akan mereka
hadapi yang mungkin mereka sendiri tidak menyadarinya. Kita orang yang
lebih tahu dari mereka. Kita harus menyampaikan kepada mereka tanpa
harus berkata bertele-tele dan sulit untuk mereka pahami. Semua anda
sampaikan dalam berbagai bahasa. Tujuannya satu; pesan itu sampai dan
mereka sadari.
Dengan
tersampaikannya hal ini, maka perjuangan seorang guru akan menjadi
lebih sempurna. meluangkan waktu sejenak untuk hal seperti ini, tentulah
bukan hal yang begitu mudah, dibutuhkan kemampuan dan kejernihan
langkah dan menghilangkan sikap 'ego' dan hasrat pribadi lainnya. Anang
0 comments:
Post a Comment